ANDA sering mengalami gangguan pencernaan? Apa yang menjadi penyebab utama masalah ini terjadi?
Gangguan pencernaan memang wajar terjadi bila sesekali dialami.
Namun, tidak sedikit orang yang mengalami masalah ini. Jika Anda
merupakan salah satu yang mengalami hal tersebut, bisa jadi kekurangan
enzim menjadi pemicu utama.
Menurut data yang dilansir Foxnews, penyebab utama terganggunya sistem pencernaan karena
kurangnya enzim pencernaan. Penyebabnya yaitu kebiasaan makan yang
buruk, seperti makanan tidak dikunyah dengan baik atau pilihan menu
makanan yang kurang tepat menjelang tidur.
Ketika Anda makan, tubuh akan melepaskan sekira 22 jenis enzim pencernaan dari kelenjar saliva, lambung, dan usus kecil. Setiap salah satu enzim bekerja pada jenis makanan tertentu, misalnya, protease memecah protein, amilase membantu mencerna karbohidrat dan lipase memecah lemak dan lipid. Dengan meruntuhkan makanan ini, enzim-enzim pencernaan membantu tubuh mencerna dan menyerap nutrisi yang dibutuhkan.
Untuk
menjaga pencernaan aman, Anda sebaiknya memperbaiki pola makan. Jangan
sampai terlambat makan, kurang mengonsumsi buah dan sayur, serta terlalu
cepat menelan makanan
Jumat, 18 Mei 2012
Kamis, 17 Mei 2012
Trik untuk Atasi Tangisan Bayi Setelah Divaksin
Bagi orangtua salah satu hal yang dikhawatirkan ketika akan melakukan
vaksin pada bayinya adalah tangisan yang muncul saat divaksin. Kini ada
trik mudah untuk menenangkan bayi yang nangis saat divaksin, yaitu
dengan trik 5 S.
Saat disuntik menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman bagi bayi sehingga ia akan menangis. Namun dokter dari Children's Hospital of the King's Daughters di Norfolk, Virginia menemukan cara mudah untuk membantu menenangkan bayi yang menangis tanpa menggunakan obat apa pun.
Dr John Harrington yang melakukan studi menemukan trik 5 S ini yaitu:
1. Swaddling, yaitu menyelimuti bayi dengan selimut seperti mirip burrito
2. menempatkan bayi pada posisi miring atau tengkurap
3. Membuat suara shushing
4. Mengayunkan-ayunkan bayi
5. Memberinya sesuatu yang bisa diisap seperti menyusui atau dot.
Menyusui juga membantu mengurangi nyeri dan menenangkan anak karena memberikan kontak kulit dan mengalihkan perhatian anak. Selain itu ASI mengandung gula yang dikenal memiliki efek penghilang rasa sakit.
Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics jika bayi mendapatkan 4 dari 5 trik tersebut biasanya tangisan akan berhenti dalam waktu 45 detik setelah disuntik.
"Beberapa dokter kadang menggunakan gula untuk mengatasi rasa sakit, tapi ini obat yang buruk karena tidak membantu mengatasi masalah obesitas yang saat ini tengah dihadapi," ujar Dr Harrington, seperti dikutip dari CNN,
Orangtua yang menggunakan trik 5 S ini akan memicu refleks menenangkan pada bayi. Sebenarnya teknik ini bisa membantu saat bayi mengalami kolik, maka Dr Harrington memutuskan untuk meneliti apakah cara ini bisa membantu bayi yang habis divaksin.
Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa trik 5 S ini 2 kali lebih efektif untuk menenangkan bayi dibanding dengan memberikan cairan gula yang selama ini telah menjadi standar emas.
"Bayi yang nerima larutan gula masih menangis hingga 2 menit setelah disuntik, tapi sebagian besar bayi yang mendapat intervensi secara fisik berhenti menangis setelah 45 detik sampai 1 menit," ujar Dr Harrington.
Saat disuntik menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman bagi bayi sehingga ia akan menangis. Namun dokter dari Children's Hospital of the King's Daughters di Norfolk, Virginia menemukan cara mudah untuk membantu menenangkan bayi yang menangis tanpa menggunakan obat apa pun.
Dr John Harrington yang melakukan studi menemukan trik 5 S ini yaitu:
1. Swaddling, yaitu menyelimuti bayi dengan selimut seperti mirip burrito
2. menempatkan bayi pada posisi miring atau tengkurap
3. Membuat suara shushing
4. Mengayunkan-ayunkan bayi
5. Memberinya sesuatu yang bisa diisap seperti menyusui atau dot.
Menyusui juga membantu mengurangi nyeri dan menenangkan anak karena memberikan kontak kulit dan mengalihkan perhatian anak. Selain itu ASI mengandung gula yang dikenal memiliki efek penghilang rasa sakit.
Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics jika bayi mendapatkan 4 dari 5 trik tersebut biasanya tangisan akan berhenti dalam waktu 45 detik setelah disuntik.
"Beberapa dokter kadang menggunakan gula untuk mengatasi rasa sakit, tapi ini obat yang buruk karena tidak membantu mengatasi masalah obesitas yang saat ini tengah dihadapi," ujar Dr Harrington, seperti dikutip dari CNN,
Orangtua yang menggunakan trik 5 S ini akan memicu refleks menenangkan pada bayi. Sebenarnya teknik ini bisa membantu saat bayi mengalami kolik, maka Dr Harrington memutuskan untuk meneliti apakah cara ini bisa membantu bayi yang habis divaksin.
Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa trik 5 S ini 2 kali lebih efektif untuk menenangkan bayi dibanding dengan memberikan cairan gula yang selama ini telah menjadi standar emas.
"Bayi yang nerima larutan gula masih menangis hingga 2 menit setelah disuntik, tapi sebagian besar bayi yang mendapat intervensi secara fisik berhenti menangis setelah 45 detik sampai 1 menit," ujar Dr Harrington.
Selasa, 15 Mei 2012
1 dari 3 Pengidap Diabetes Depresi Menghadapi Penyakitnya
Gangguan metabolisme tubuh bisa berpengaruh langsung terhadap kondisi
kesehatan jiwa. Menurut penelitian terbaru, 35 persen atau sekitar 1
dari 3 pengidap diabetes khususnya tipe 2 juga mengalami gangguan
depresi dan kegelisahan.
Penelitian yang dilakukan oleh The Diabetes Miles Study tersebut mengungkap, 35 persen pengidap diabetes melitus tipe 2 mengalami depresi dengan tingkat keparahan sedang hingga berat. Gangguan kejiwaan ini biasanya disertai juga dengan kegelisahan.
Salah seorang peneliti, Lewis Kaplan mengatakan diabetes cukup banyak menyumbang kasus depresi. Di Australia misalnya, dengan perkiraan 200.000 pengidap diabetes melitus tipe 2 maka paling tidak 70.000 di antaranya juga mengalami depresi dan kegelisahan.
"Sebagai pengidap diabetes melitus tipe 1 selama 31 tahun, saya sangat senang bahwa perhatian tengah difokuskan pada hubungan antara depresi dengan diabetes," kata Kaplan yang kebetulan juga seorang pengidap diabetes,
Diabetes melitus tipe 1 seperti yang diidap oleh Kaplan umumnya tidak bisa dicegah karena dipicu oleh gangguan metabolisme yang dibawa sejak lahir. Sementara diabetes melitus tipe 2, sangat mungkin dicegah karena erat hubungannya dengan diet dan gaya hidup sehat.
Baik diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2 sama-sama menghambat metabolisme gula menjadi energi, sebab fungsi hormon insulin tidak bekerja sebagaimana mestinya. Gejala yang sering dirasakan para pengidapnya antara lain pandangan kabur dan cepat lelah.
Selain memicu depresi, diabetes melitus juga memicu komplikasi lain di berbagai sistem organ. Pada mata bisa memicu kebutaan, di organ vital bisa memicu gagal jantung atau ginjal sementara khusus pada lelaki juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi.
Penelitian yang dilakukan oleh The Diabetes Miles Study tersebut mengungkap, 35 persen pengidap diabetes melitus tipe 2 mengalami depresi dengan tingkat keparahan sedang hingga berat. Gangguan kejiwaan ini biasanya disertai juga dengan kegelisahan.
Salah seorang peneliti, Lewis Kaplan mengatakan diabetes cukup banyak menyumbang kasus depresi. Di Australia misalnya, dengan perkiraan 200.000 pengidap diabetes melitus tipe 2 maka paling tidak 70.000 di antaranya juga mengalami depresi dan kegelisahan.
"Sebagai pengidap diabetes melitus tipe 1 selama 31 tahun, saya sangat senang bahwa perhatian tengah difokuskan pada hubungan antara depresi dengan diabetes," kata Kaplan yang kebetulan juga seorang pengidap diabetes,
Diabetes melitus tipe 1 seperti yang diidap oleh Kaplan umumnya tidak bisa dicegah karena dipicu oleh gangguan metabolisme yang dibawa sejak lahir. Sementara diabetes melitus tipe 2, sangat mungkin dicegah karena erat hubungannya dengan diet dan gaya hidup sehat.
Baik diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2 sama-sama menghambat metabolisme gula menjadi energi, sebab fungsi hormon insulin tidak bekerja sebagaimana mestinya. Gejala yang sering dirasakan para pengidapnya antara lain pandangan kabur dan cepat lelah.
Selain memicu depresi, diabetes melitus juga memicu komplikasi lain di berbagai sistem organ. Pada mata bisa memicu kebutaan, di organ vital bisa memicu gagal jantung atau ginjal sementara khusus pada lelaki juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi.
Cara Meminimalkan Kerusakan Tubuh Setelah Stroke
Kebanyakan kasus stroke adalah iskemik, artinya disebabkan oleh
penggumpalan darah. Setelah terserang stroke, berbagai faktor seperti
gula darah, suhu tubuh dan posisi tubuh di tempat tidur dapat
mempengaruhi kondisi kesehatan.
Stroke merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak tiba-tiba terganggu. Kurangnya aliran darah menyebabkan kerusakan atau kematian sel-sel otak."Periode setelah stroke iskemik akut adalah waktu yang sangat berisiko. Perhatian mengenai perawatan pasien stroke dapat mencegah cedera saraf dan meminimalkan komplikasi serta mengoptimalkan pemulihan
Perawatan stroke memiliki 2 tujuan utama, yaitu meminimalkan cedera pada jaringan otak dan mengobati komplikasi yang dapat terjadi setelah stroke, baik kerusakan saraf maupun fisik.
Setelah menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi pasien stroke, para peneliti menyarankan berbagai hal seperti berikut:
1. Mengontrol kadar gula darah
Ada cukup bukti mengenai hubungan antara hiperglikemia atau kadar gula darah yang tinggi dengan kondisi kesehatan yang buruk setelah stroke. Para peneliti menyarankan untuk mengecek gula darah secara ketat dan melakukan pengobatan insulin secara agresif.
2. Melakukan pendinginan
Untuk setiap kenaikan suhu tubuh sebesar 1 derajat Celcius, risiko kematian atau cacat berat pada pasien meningkat lebih dari 2 kali lipat. Terapi pendinginan mampu membantu pasien serangan jantung. Saat ini, uji klinis sedang dilakukan untuk menentukan apakah pendinginan juga bisa membantu pasien stroke.
3. Usahakan berbaring telentang
Posisi di tempat tidur juga penting karena duduk tegak akan mengurangi aliran darah di otak. Praktek yang umum dilakukan adalah menjaga pasien untuk berbaring selama 24 jam.
Jika pasien memiliki orthopnea atau kesulitan bernafas saat berbaring, bagian kepala pada tempat tidur harus diatur agar membuat sudut serendah mungkin yang dapat ditoleransi pasien.
4. Mengelola berbagai kondisi lain yang menyertai
Stroke biasanya berkaitan dengan berbagai kondisi medis lain. Sebaiknya segera lakukan penanganan terhadap faktor-faktor lain seperti tekanan darah, volume darah, terapi statin, manajemen komplikasi lain seperti pneumonia dan sepsis, gangguan jantung, pembekuan darah, infeksi, kekurangan gizi, pembengkakan otak, kejang, stroke berulang dan perdarahan otak.
Penelitian telah menunjukkan bahwa upaya perawatan stroke yang optimal dapat meningkatkan kemungkinan pasien menjalani rawat jalan di rumah dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Stroke merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak tiba-tiba terganggu. Kurangnya aliran darah menyebabkan kerusakan atau kematian sel-sel otak."Periode setelah stroke iskemik akut adalah waktu yang sangat berisiko. Perhatian mengenai perawatan pasien stroke dapat mencegah cedera saraf dan meminimalkan komplikasi serta mengoptimalkan pemulihan
Perawatan stroke memiliki 2 tujuan utama, yaitu meminimalkan cedera pada jaringan otak dan mengobati komplikasi yang dapat terjadi setelah stroke, baik kerusakan saraf maupun fisik.
Setelah menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi pasien stroke, para peneliti menyarankan berbagai hal seperti berikut:
1. Mengontrol kadar gula darah
Ada cukup bukti mengenai hubungan antara hiperglikemia atau kadar gula darah yang tinggi dengan kondisi kesehatan yang buruk setelah stroke. Para peneliti menyarankan untuk mengecek gula darah secara ketat dan melakukan pengobatan insulin secara agresif.
2. Melakukan pendinginan
Untuk setiap kenaikan suhu tubuh sebesar 1 derajat Celcius, risiko kematian atau cacat berat pada pasien meningkat lebih dari 2 kali lipat. Terapi pendinginan mampu membantu pasien serangan jantung. Saat ini, uji klinis sedang dilakukan untuk menentukan apakah pendinginan juga bisa membantu pasien stroke.
3. Usahakan berbaring telentang
Posisi di tempat tidur juga penting karena duduk tegak akan mengurangi aliran darah di otak. Praktek yang umum dilakukan adalah menjaga pasien untuk berbaring selama 24 jam.
Jika pasien memiliki orthopnea atau kesulitan bernafas saat berbaring, bagian kepala pada tempat tidur harus diatur agar membuat sudut serendah mungkin yang dapat ditoleransi pasien.
4. Mengelola berbagai kondisi lain yang menyertai
Stroke biasanya berkaitan dengan berbagai kondisi medis lain. Sebaiknya segera lakukan penanganan terhadap faktor-faktor lain seperti tekanan darah, volume darah, terapi statin, manajemen komplikasi lain seperti pneumonia dan sepsis, gangguan jantung, pembekuan darah, infeksi, kekurangan gizi, pembengkakan otak, kejang, stroke berulang dan perdarahan otak.
Penelitian telah menunjukkan bahwa upaya perawatan stroke yang optimal dapat meningkatkan kemungkinan pasien menjalani rawat jalan di rumah dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Langganan:
Komentar (Atom)
