Kamis, 26 April 2012

Obat-obatan dan Ibu Hamil

Pemakaian obat-obatan selama kehamilan dapat berbahaya. Obat-obatan dapat diangkut bersama nutrisi melalui darah ke plasenta bayi. Kemungkinan efek termasuk keguguran, keterlambatan perkembangan, cacat mental dan cacat fisik.
Dalam 12 minggu pertama kehamilan, janin mengembangkan organ-organ tubuhnya. Empat bulan pertama kehamilan adalah periode di mana sebagian besar obat-obatan dapat membahayakan bayi. Pada tahap selanjutnya kehamilan, obat tertentu dapat menghambat pertumbuhan bayi. Hal ini dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah atau sering mengalami kejang. Penggunaan obat melalui suntikan dapat meningkatkan risiko penularan virus AIDS atau hepatitis. Virus ini dapat melewati plasenta dan menginfeksi bayi yang belum lahir
.
Apa yang dapat Anda lakukan?
  • Tidak memakai obat-obatan selama kehamilan adalah kondisi yang paling ideal. Namun, hal ini tidak selalu mungkin. Bila Anda harus mengkonsumsi obat-obatan, berkonsultasilah dengan dokter. Pemberian obat mungkin berisiko membahayakan bayi tetapi menghentikan obat juga dapat membahayakan Anda dan bayi Anda. Dokter mungkin dapat meresepkan obat alternatif yang diketahui aman untuk dikonsumsi selama kehamilan.
  • Bila Anda sudah memakai obat dari sejak sebelum hamil, beri tahu dokter atau bidan semua obat yang Anda pakai, termasuk: obat resep, obat bebas, makanan suplemen, jamu dan  herbal. Anda juga harus memberi tahu dokter atau bidan jika Anda merokok, meminum alkohol atau memakai obat-obatan terlarang.
  • Bila dokter meresepkan obat tertentu, ikutilah petunjuknya dengan tepat.
  • Bila mungkin, gunakan alternatif non-obat untuk mengatasi masalah kesehatan ringan selama kehamilan, misalnya:
    • Mengobati sembelit dengan makan lebih banyak serat makanan.
    • Menggunakan semprot air garam untuk mengobati hidung tersumbat.
    • Mengindari makanan atau bau yang memicu mual.

7 Tips Menghindari Efek Samping Obat

Obat jelas lebih banyak manfaat daripada mudaratnya. Obat aman bila dikonsumsi dengan benar. Namun obat juga dapat memiliki efek samping. Di negara-negara maju yang taraf kesehatannya lebih tinggi, pengaruh negatif obat adalah penyebab kematian nomor empat (Ingat mengapa Michael Jackson meninggal dunia?). Di negara berkembang seperti Indonesia, lebih banyak orang yang meninggal karena tidak mampu beli obat daripada karena pengaruh negatifnya.
Untuk menghindari efek negatif obat, banyak cara telah dilakukan. Perusahaan farmasi selalu mencantumkan kontra indikasi dan interaksi obat di setiap kemasannya. Mereka juga memonitor efek samping obat dan selalu melakukan perbaikan untuk menekan efek negatifnya.
Banyak obat baru yang efek sampingnya baru diketahui setelah beredar di pasar. Bila efeknya fatal biasanya akan dilakukan penarikan. Obat-obatan yang penggunaannya tidak luas mungkin perlu waktu lama untuk mengetahui semua potensi negatifnya.

Sebagai konsumen , Anda sendirilah yang harus waspada terhadap potensi efek samping obat. Beberapa tips berikut dapat menjadi panduan Anda:
1. Baca dosis dan aturan pakainya.
Setiap obat berbeda kekuatannya. Bacalah dosis obat dengan cermat ketika Anda akan mengkonsumsinya. Bila dokter menyarankan setengah tablet, jangan mengubahnya sendiri karena Anda merasa kekuatannya kurang. Berkonsultasilah dengan dokter sebelum melakukannya. Tanyakan juga ke dokter atau apoteker bila Anda akan menggerus atau memecah tablet. Beberapa jenis obat harus ditelan secara utuh.
2. Lihat tanda peringatan.
Beberapa obat berpengaruh terhadap kemampuan Anda berkendara atau mengoperasikan mesin. Bila Anda meminumnya, Anda harus berhenti berkendara atau menjalankan mesin agar tidak mengalami kecelakaan. Obat-obatan ini memiliki tanda peringatan segitiga merah di labelnya.
3. Ketahui efek samping obat.
Sejumlah obat memiliki potensi efek samping. Beberapa obat penenang, obat anti hipertensi dan obat anti epilepsi, misalnya, dapat menimbulkan impotensi. Anda juga harus waspada terhadap potensi efek samping obat berikut:
  • Obat antikoagulan warfarin -> perdarahan
  • Obat penurun kolesterol simvastatin dan atorvastatin -> masalah otot
  • Obat anti peradangan ibuprofen -> perdarahan
  • Obat penenang diazepam-> menekan kerja sistem saraf pusat
  • Obat diuretik furosemide -> ketidakseimbangan garam dalam tubuh
  • Obat penenang citalopram -> sindrom serotonin seperti sakit kepala, kejang otot, kecemasan, bingung dan berkeringat.
Bila Anda curiga obat yang Anda minum menyebabkan efek samping, segeralah berkonsultasi dengan dokter.
4. Jangan sembarangan memberikan obat bebas kepada anak.
Jangan memberikan obat bebas kepada anak kecuali labelnya secara spesifik menyebutkan boleh dikonsumsi anak-anak. Anak-anak bukanlah orang dewasa berukuran kecil. Mereka memiliki sensitivitas dan daya respon yang berbeda terhadap obat sehingga tidak semua obat untuk dewasa dapat diberikan kepada anak.
5. Bacalah kandungan isi dan tanggal daluwarsa obat.
Banyak obat bebas yang memiliki nama atau merek berbeda-beda namun kandungannya sama. Pastikan Anda tidak mengkonsumsi obat yang sama dalam kemasan merek yang berbeda untuk menghindari overdosis.
6. Beritahu dokter bila Anda:
  • sedang hamil atau menyusui
  • alergi terhadap obat tertentu
  • memiliki diabetes, penyakit ginjal atau liver
  • sedang meminum obat lain atau suplemen/herbal
  • sedang menjalani diet khusus
Obat-obatan tertentu tidak cocok untuk orang dengan kondisi tertentu. Obat juga dapat berinteraksi dengan obat lain, makanan dan suplemen tertentu. Dokter perlu mengetahui kondisi Anda agar dapat meresepkan obat yang aman.
7. Mintalah dokter mengevaluasi pengobatan jangka panjang Anda.
Bila Anda memiliki penyakit kronis seperti penyakit jantung atau hipertensi, Anda perlu mengkonsumsi obat tertentu secara terus-menerus dalam jangka panjang. Obat yang Anda minum seringkali perlu diselangi obat lain agar tidak memberikan efek negatif yang merugikan kesehatan.

Rabu, 25 April 2012

Mengatasi Demam pada Anak

Anak-anak sering mengalami demam. Demam bisa terjadi tiba-tiba, namun juga bisa dengan cepat menghilang. Apa sebenarnya demam dan apa yang sedang terjadi dalam tubuh ketika demam? Kapan Anda harus harus menghubungi dokter ?

Apa itu demam?

Anak dikatakan demam bila suhu tubuhnya di atas 37º C. Demam bukanlah penyakit, tetapi reaksi pertahanan tubuh terhadap cedera atau infeksi. Tubuh menghasilkan panas lebih banyak dan mencoba mempertahankan suhu tingginya agar metabolisme berlangsung lebih cepat. Suhu tubuh yang tinggi itu juga menghambat perkembangan kuman dan bakteri. Ketika demam, tubuh akan mendinginkan diri dengan melebarkan pembuluh darah sehingga panas dapat keluar melalui kulit (keringat). Hal ini membuat anak menggigil.

Gejala yang menyertai demam

Anak-anak yang demam tubuhnya akan terasa hangat. Gejala lain yang biasanya menyertai demam antara lain:
  • menggigil dan gigi gemeretuk (jika demam tinggi)
  • nyeri otot dan sendi
  • berkeringat (ketika suhu menurun)
  • denyut jantung meningkat
  • mengantuk dan lemah
  • nafsu makan berkurang

Pengobatan demam

Bila anak Anda kelihatan kuat dan tidak mengalami kejang, demam mungkin tidak memerlukan pengobatan. Jika anak Anda tidak sehat, Anda dapat memberikan sirup atau tablet penurun panas. Beberapa saran untuk perawatan:
  • Usahakan anak minum secara teratur untuk mencegah dehidrasi.
  • Biarkan anak banyak beristirahat dan tidur untuk memulihkan diri.
  • Kenakan baju tipis pada anak agar panasnya keluar.

Pencatatan suhu

Untuk memantau perkembangan demam anak Anda, Anda harus mengukur suhu tubuhnya dengan termometer. Sebaiknya tidak menggunakan termometer berbasis merkuri (air raksa). Merkuri adalah zat yang sangat beracun jika terkena kulit, terhirup atau tertelan. Termometer dapat rusak dan mengeluarkan air raksa bila, misalnya, digigit anak yang sedang menggigil. Termometer digital yang lebih aman, cepat dan akurat kini banyak tersedia di pasaran.
Ada beberapa tempat pada tubuh anak yang cocok untuk pengukuran suhu:
  • Rektum (anus). Perubahan suhu di dubur seringkali di belakang suhu tubuh pusat (suhu organ di dalam tubuh) sehingga ada risiko bahwa perubahan suhu yang besar terlambat terdeteksi.
  • Mulut. Suhu di mulut biasanya cukup mewakili suhu tubuh.
  • Ketiak. Anak kecil seringkali sulit mempertahankan posisi termometer di ketiak sehingga pengukurannya bisa tidak akurat.
  • Telinga. Bagian dalam telinga mudah diakses untuk mengukur suhu dengan menggunakan termometer non-kontak. Suhu yang diukur di telinga memberikan indikasi yang dapat diandalkan.

Kapan harus membawa anak ke dokter?

Periksakan anak ke dokter bila:
  • Anak Anda berusia kurang dari tiga bulan
  • Demam berlangsung  lebih dari tiga hari
  • Suhu anak meningkat sampai 40º C
  • Anak menunjukkan gejala seperti: ruam kulit, sesak nafas, kejang-kejang, kram, diare, muntah, dll.
Dokter akan memberikan saran yang tepat sesuai dengan kondisi anak Anda

Selasa, 24 April 2012

Kusta, Penyakit Menular yang Sulit Menular

  Kusta adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Di Indonesia, penderita kusta umumnya ditemukan di pedalaman. Peta sebaran kusta di Indonesia menunjukkan, wilayah timur merupakan daerah dengan tingkat paparan tinggi.
Kusta atau lepra bukanlah penyakit baru. Konon penyakit ini sudah ada sejak 300 SM. Meskipun termasuk salah satu penyakit menular, tetapi kusta sebenarnya sangat sulit menular sehingga tidak perlu terlalu ditakuti.
Demikian disampaikan Kepala Puskesmas Wedung II dr. Munarto TC. , saat acara orientasi pengurus dan anggotaFKD dalam penanggulangan masalah kesehatan TB paru dan Kusta di desa Mutih Kulon
"Sebanyak 95 persen dari kita yang terpapar dengan kusta, kebal dengan penyakit ini. Dan 5 persen orang yang terpapar, 3 persennya bisa sembuh sendiri tanpa obat dan hanya 2 persen yang membutuhkan obat,"
jika penderita kusta segera diketahui dan diobati, maka dia tidak akan menularkan lagi penyakit itu. Indonesia hingga saat ini merupakan salah satu negara dengan beban penyakit kusta yang tinggi. Pada tahun 2010, tercatat ada sekitar 17.012 kasus kusta baru.
 "Orang harus segera pergi ke Puskemas jika mengalami kelainan kulit seperti berupa bercak putih atau merah untuk segera mendapatkan pengobatan," terangnya.Ia menambahkan, kecacatan yang terjadi pada penderita akibat kusta seringkali tampak menyeramkan sehingga menyebabkan adanya stigma dan ketakutan berlebihan terhadap kusta."Penting untuk mensosialisasikan tanda dini kusta, dan mensosialisasikan kusta dengan benar. Karena masyarakat masih berpandangan bahwa kusta itu kutukan, keturunan, guna-guna dan sebagainya," jelasnya.

 dr. Munarto menambahkan, penolakan yang dilakukan oleh masyarakat dan petugas kesehatan seringkali menghambat penemuan kasus kusta secara dini, pengobatan pada penderita, serta penanganan permasalahan medis. Di sisi lain, stigma di masyarakat menyebabkan keterbatasan penderita kusta untuk menerima hak asasinya secara penuh sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat.

"Guna mengatasi keterbatasan tersebut, dibutuhkan komitmen yang kuat dari tenaga medis dalam menangani penyakit kusta secara medik maupun dalam memberikan informasi dan edukasi penyakit kusta kepada masyarakat," untuk Masyarakat wedung dalam wilayah pelayanan keshatan Puskesmas Wedung II bisa menghubungi bapak Mubarok SSt. hotline kami di 085216165303 " tutupnya